
Pendaftaran Merek Gagal? Bisa Jadi Salah Pilih Jasa!
Banyak layanan yang menjanjikan kemudahan, tapi tidak semua memberikan perlindungan maksimal. Ketahui cara memilih jasa pendaftaran merek yang benar agar tidak salah langkah!Lihat Panduannya di Sini!!
Pemilik bisnis biasanya fokus pada omzet, repeat order, dan peluang kerja sama. Namun terkadang saat masuk fase transaksi seperti akan membeli brand, menjual merek, atau memberi lisensi, muncul banyak risiko hukum.
Penyebab sengketa hak merek yang paling sering terjadi adalah kemiripan nama atau logo dengan merek terdaftar, pemilihan kelas merek yang tidak sesuai produk, hingga status kepemilikan yang tidak jelas.
Banyak pemilik bisnis juga mengabaikan dokumen pengalihan hak merek saat jual-beli, atau lupa memeriksa riwayat lisensi dan perjanjian distributor. Akibatnya, bisnis terlihat rapi di depan pelanggan, tetapi rapuh di sisi hukum.
Dasar hukum sengketa merek di Indonesia merujuk pada UU Merek dan Indikasi Geografis (UU No. 20 Tahun 2016) yang mengatur pendaftaran, perlindungan, dan langkah ketika timbul konflik.
Dalam praktiknya, sengketa bisa berkaitan dengan penolakan atau keberatan pendaftaran, pembatalan merek yang sudah terdaftar, hingga klaim pelanggaran penggunaan merek dalam kegiatan perdagangan.
Sebagai pemilik bisnis, ketika kamu akan mengakuisisi suatu bisnis, pastikan pihak yang menjual atau memberi lisensi memang pemilik sah pada sertifikat. Begitu pula saat akad transaksi terjadi, perlu ada perjanjian yang rapi, termasuk jaminan kepemilikan, batas penggunaan, dan mekanisme penyelesaian jika konflik muncul.
Jika terjadi sengketa hak merek muncul, dampaknya bisa menyentuh arus kas, operasional, dan reputasi brand. Beberapa diantaranya:
Salah satu contoh sengketa hak merek yang cukup terkenal di Indonesia adalah kasus DC Comics dengan produk wafer lokal bernama Superman. Sengketa ini muncul karena penggunaan nama dan logo “Superman” yang dinilai memiliki kemiripan dengan karakter Superman milik DC Comics.
DC Comics menilai penggunaan merek tersebut bisa menyesatkan konsumen dan melanggar hak merek. Kasus ini menunjukkan bahwa memakai nama atau simbol yang mirip dengan merek terkenal sangat berisiko, meskipun produk dan target pasarnya berbeda.

Dampak dari sengketa hak merek tentu sangat merugikan transaksi bisnis. Dalam konteks artikel ini, transaksi bisnis mencakup jual beli merek, akuisisi brand, lisensi, franchise, hingga kerja sama yang melibatkan penggunaan merek.
Lalu bagaimana agar transaksi bisnis sukses dan tidak terkena sengketa?
Penting untuk memastikan kejelasan status merek. Apakah merek sudah terdaftar secara legal, masih dalam proses pendaftaran, atau bahkan sudah kadaluarsa. Status ini harus jelas sebelum deal transaksi, karena status yang masih belum jelas seringkali menjadi awal dari sengketa.
Kelas merek akan menentukan ruang perlindungan. Misalnya bisnismu bergerak di makanan dan minuman, tetapi merek yang terdaftar malah di kelas pakaian. Maka perlindungannya tidak relevan dan bisa jadi akan menghadapi risiko saat merek serupa terdaftar di kelas yang benar.
Selain melihat kemiripan ejaan nama merek, periksa juga kemiripan visual logo, cara baca, hingga makna. Banyak sengketa yang muncul karena pelanggan mengira brand A adalah brand B dan sebaliknya.
Pastikan nama pemilik pada sertifikat sesuai dengan pihak yang menandatangani perjanjian. Kalau bisnis dijalankan atas nama perusahaan tetapi merek terdaftar atas nama pribadi, maka perlu memastikan ada dokumen yang membuktikan hak menjual atau mengalihkan.
Banyak merek yang sekilas aman tapi ternyata memiliki riwayat lisensi yang bermasalah di masa lalu. Oleh karena itu, kamu perlu memeriksa apakah pernah ada lisensi, co-branding, atau kontrak distributor yang masih aktif. Tujuaany agar tidak ada pihak lain yang mengajukan klaim.
Simpan bukti penggunaan seperti kemasan, invoice, materi promosi, website, dan dokumentasi marketplace. Bukti ini membantu memperkuat posisi jika ada klaim atau keberatan.
Saat jual-beli merek, kamu perlu menyiapkan dokumen pengalihan hak merek atau perjanjian lisensi yang jelas. Tambahkan klausul penting seperti pernyataan bebas sengketa, jaminan kepemilikan, serta skema ganti rugi jika masalah muncul setelah pembayaran.
Jika kamu menemukan ada risiko sengketa di masa depan, kamu bisa menyiapkan nama cadangan atau penyesuaian identitas brand sebelum mencetak kemasan dan menyalakan iklan. Mitigasi kecil di awal jauh lebih murah daripada rebranding total.
Kalau kamu sedang merencanakan akuisisi brand, franchise, atau ekspansi nasional, langkah-langkah ini menjadi standar keamanan transaksi.
Sebelum kasus sengketa hak merek benar benar terjadi, akan lebih baik jika kamu mulai mengecek apakah ada potensi sengketa atau tidak. Jika kasusnya ringan, berkas dokumen rapi, dan punya waktu mengurus administrasi maka bisa mengurus sendiri.
Namun, kamu sebaiknya memakai jasa profesional jika kamu menghadapi salah satu kondisi berikut:
Kamu perlu mengingat bahwa sengketa hak merek bisa mengubah transaksi yang terlihat untung menjadi kerugian yang panjang. Kamu bisa mencegahnya dengan cek status, kelas, kemiripan, kepemilikan, dan dokumen transaksi sejak awal. Saat kamu melihat potensi red flag, kamu perlu bergerak cepat dan rapi, bukan menunggu konflik membesar.
Kalau kamu ingin transaksi merek lebih aman dan butuh pendampingan dari tahap cek risiko sampai pengurusan, kamu bisa menggunakan Jasa Daftar Merek. Semoga hal ini bisa membantu bisnismu ya!
Pendaftaran Merek Itu Mudah, Asal Pilih Jasa yang Tepat!
Jangan tergiur harga murah tanpa memastikan kualitas layanan. Ketahui cara memilih jasa pendaftaran merek yang benar-benar bisa melindungi merek bisnismu dengan maksimal.Simak Panduan Lengkapnya!
Semua sengketa yang berkaitan dengen merek diselesaikan oleh pengadilan khusus di lingkungan Peradilan Umum berupa Pengadilan Niaga.
Pengajuan gugatan dapat diajukan kepada ketua Pengadilan Niaga secara online melalui aplikasi e-Court Mahkamah Agung atau secara offline dengan mendatangi Pengadilan Niaga.
Sengketa hak merek adalah perselisihan hukum terkait penggunaan, kepemilikan, atau pendaftaran merek dagang, terjadi saat dua pihak mengklaim merek yang sama atau mirip.